MTs NURUL HASANAH
Senin, 08 Februari 2021
Selasa, 07 April 2020
Senin, 06 April 2020
SEJARAH PENDIRIAN MTs NURUL HASANAH
1. Pendahuluan
Pada awal pendirian, penulis tidak pernah berfikir bahwa MTs Nurul Hasanah akan berkembang seperti sekarang, baik secara kualitas (prestasi) maupun secara kuantitas (jumlah siswa) dimana perkembangannya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara signifikan. Pada saat itu yang dipikirkan penulis bagaimana meyakinkan masyarakat supaya mau menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi setelah tamat dari Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena kebanyakan masyarakat pada saat itu masih berfikir, daripada sekolah lebih baik menikah atau bekerja membantu orang tua. Sehingga banyak anak-anak yang tidak menamatkan pendidikan baik di SD atau di MI karena sudah dinikahkan, bekerja membantu orang tuanya, dan tidak sedikit yang bekerja ke Luar Negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Untuk mengatasinya, penulis saat itu harus berkeliling mendatangai rumah-rumah penduduk yang diketahui anak-anaknya baru lulus SD/MI. Upaya yang dilakukan penulis mendatangi rumah-rumah setiap menjelang dibukanya tahun pelajaran baru. Kegiatan itu berkurang, setelah lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana pada akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang Wajar Dikdas 9 Tahun. Pada awalnya pemerintah khususnya pemerintah setempat tidak memiliki kekuatan mendorong masyarakat supaya melanjutkan pendidikan bagi anak-anaknya, tetapi dengan adanya kebijakan itu, peran serta pemerintah khususnya pemerintah setempat dari mulai camat, kepala desa sampai tingkat RT dan tokoh masyarakat menyuarakan kepentingan yang sama, bahwa anak-anak lulusan SD/MI harus melanjutkan ke SLTP tanpa kecuali. Program wajar dikdas 9 tahun diperkuat dengan digulirkannnya program Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) tahun 2005. Dengan adanya program pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun ditambah dengan adanya kebijakan pemerintah tentang Bantuan Oprasional Sekolah (BOS) menjadi peluang tersendiri bagi madrasah untuk lebih menyadarkan masyarakat agar mau menyekolahkan anak-anaknya tanpa harus memikirkan biaya.
2. Kondisi Awal berdirinya Madrasah Tsanawiyah Nurul Hasanah
MTs Nurul Hasanah didirikan pada tanggal 15 April 1995 oleh penulis beserta tokoh masyarakat setempat di dalamnya ada kepala SD, Kepala MI, dan aparat Desa Sindangraja, termasuk didalamnya Kepala Desa Sindangraja yang berkedudukan sebagai pelindung.
Para Pendiri MTs Nurul Hasanah yang berperan juga sebagai pengurus Yayasan dan merupakan orang-orang yang sangat berjasa dalam kifrah pendirian MTs Nurul Hasanah, mereka adalah orang-orang yang sangat peduli pada pendidikan walaupun tidak semua pendiri punya basic dan latar belakang pendidikan tetapi kepeduliannya terhadap pendidikan patut diapresiasi. Berkat mereka, MTs Nurul Hasanah bisa berkifrah sampai sekarang.
MTs Nurul Hasanah berlokasi di Kampung Cicukang RT.01/01 Desa Sindangraja Kecamatan Curugkembar Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Saat itu Desa Sindangraja dikatagorikan sebagai desa IDT (Inpres Disa Tertinggal).
Keadaan alam yang dikelilingi tanah kehutanan dan tanah perkebunan menjadikan lahan pesawahan tidak begitu luas. Mayoritas masyarakat bercocok tanam diarea kehutanan dan di area perkebunan dengan menanam palawija dan tanaman lain yang sekiranya bisa dijual atau di makan. Letak rumahpun saling berjauhan terkadang terhalang oleh bukit atau pesawahan, bahkan terhalang oleh hutan dan perkebunan. Keaadaan tersebut manyebabkan masyarakat kurang peduli terhadap pendidikan. Bahkan sebahagaian masyarakat ada yang beranggapan, bauat apa sekolah tinggi-tingi, toh akhirnya kembali ke ladang dan ke sawah juga. Buat apa perempuan sekolah, pada akhirnya akan kembali ke dapur sebagai ibu rumah tangga.
Kondisi jalanpun masih jalan tanah (saat ini sudah ada pengerasan) sehinga akses ekonomi dan transfortasi serta komunikasi masyarakat menjadi terhambat. Pada saat itu, para siswa berangkat ke sekolah harus menempuh perjalanan jauh sampai 7 kilometer untuk sampai ke sekolah dengan berjalan kaki. Jadinya tidak heran, ketika anak-anak sampai ke sekolah berbasuh peluh, bersimbah keringat. Tetapi kondisi itu, tidak menyurutkan anak-anak untuk tetap bersekolah, walaupun dengan kondisi itu banyak siswa yang tidak mampu bertahan dan akhirnya memilih keluar. Tetapi tiga tahun terakhir situasinya mengalami perubahan, para siswa yang tadinya berjalan kaki saat ini hampir setengah dari jumlah siswa mengendarai sepeda motor. Tetapi sepeda motor hanya bisa digunakan ketika musim kemarau, sementara pada musim hujan dengan kondisi jalan masih tanah dan berbatu, banyak diantara siswa yang memilih untuk berjalan kaki.
Secara umum kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat masih melekat dengan budaya gotong royong dan kekeluargaan, dimana kebiasaan saling membantu, saling menolong masih menjadi budaya yang sudah selalu dijunjung tinggi. Walaupun secara ekonomi mereka tidak siap, tetapi kalau diminta bantuan dalam bentuk tenaga mereka kompak melakukannya dengan suka rela.
Pada tahun pertama pendirian MTs Nurul Hasanah untuk kegiatan belajar mengajar menggunakan gedung milik MI Buniwangi. Pada tahun kedua (1996) dengan bantuan kepala desa Sindangraja (Bapak Hosi) memanfaatkan bangunanSekolah Dasar yang sudah tidak terpakai, masyarakat bergotong royong membangun MTs Nurul Hasanah dengan menyumbang baik materi, tenaga termasuk pendirian bangunannya. Sampai akhirnya MTs Nurul Hasanah memiliki bangunan sendiri 3 lokal ukuran 6x7 meter untuk kelas, dan ukuran 6x3 meter untuk kantor. Tetapi saat itu kondisi ruang kelasnya karena keterbatasan dana, masih beralaskan tanah (belum dipelur apalagi di keramik).
Lokasi Sekolah / Madrasah dengan perkampungan tidak berada pada satu lokasi yang berdekatan, sehingga banyak peserta didik berasal dari daerah yang letaknya cukup jauh, dimana ketika berangkat ke sekolah harus melewati hutan atau perkebunan. Keadaan ini diperparah dengan kondisi jalan yang masih tanah terutama apabila pada musim hujan. Hal tersebut mengakibatkan :
Solusi yang penulis lakukan untuk meminimalisir hambatan-hambatan di atas, dan bagaimana supaya MTs Nurul Hasanah menjadi pilihan utama yaitu dengan cara:
Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah (rata-rata tamatan Sekolah Dasar bahkan banyak yang tidak tamat) dan kondisi ekonomi masyarakat berpenghasilan kecil karena mayoritas petani musiman dan bersipat konsumtif, berpengaruh pada program kegiatan yang telah penulis programkan terutama yang menyangkut pembiayaan. Karena itu, supaya program madrasah tetap berjalan apalagi yang berhubungan dengan pendanaan, penulis memaksimalkan dan Bantuan Oprasional Sekolah (BOS), walalupun adanya BOS berpengaruh pula pada pola fikir masyarakat (orang tua siswa). Ketika pihak sekolah meminta bantuan pendanaan walaupun nominalnya kecil sulit terealisasi dengan alasan sudah ada BOS.
Karena itu untuk mengatasi tersebut, penulis mengambil kebijakan sebagai berikut :
SEKRETARIAT
Minggu, 05 April 2020
Kamis, 16 Mei 2019
Langganan:
Komentar (Atom)

